Social Icons

Pages

Friday, October 23, 2015

Wedang Tahu Semarang


Sepanjang yang kita tahu tahu hanya dipergunakan untuk memasak saja. Tapi di Semarang makanan berbahan dasar kedelai ini dibuat satu jenis minuman lho. Sangat rugi jika Anda yang dari luar kota tidak mencicipi menu minuman yang satu ini pas berkesempatan ke Semarang. Apalagi jika Anda main ke Semarang pas malam hari, wah ini wajib dinikmati bersama keluarga atau teman. Memang tidak banyak penjual wedang tahu di Semarang. Tapi justru itu, membuat minuman yang disajikan dalam mangkuk kecil ini semakin istimewa.

Minuman dari tahu yang mirip bubur ini memiliki tekstur yang sangat lembut. Dari bau dan warna kuahnya, kita akan tahu bahwa bahan dasar kuahnya adalah jahe yang bisa bikin badan kita tambah hangat. Perpaduan rasa tahu halus yang gurih dan rasa manis pedas kuahnya sungguh menggoda lidah.

Ada dua jenis penjual wedang tahu di Semarang, yaitu yang menetap di warung dan yang berkeliling menggunakan pikulan. Keduanya sama – sama asik lho. Yang penjual keliling pikulan sering dilihat penulis di sekitar Chinatown atau pecinan. Diwilayah yang lebih dikenal dengan nama Gang Pinggir. Lainnya berkeliling disekitar jalan Mataram Semarang. Sedangkan yang berjualan di warung ada di Jalan Gajahmada dan di Jalan Setiabudi Banyumanik Semarang. Yang di Jalan Setiabudi sudah buka dari siang hari hingga pukul 10 malam.

Kabarnya, wedang tahu ini aslinya menu minuman khas Tiongkok. Di Semarang sendiri wedang yang sudah makin langka ini muncul pada abad 19 saat penjajahan Belanda di Indonesia. Dibawa oleh para imigran ke Semarang sehingga menjadi minuman khas Semarang.

Dengan hanya 1 lembar lima ribuan atau 5 lembar seribuan kita sudah bisa merasakan hangatnya minuman yang sudah ada sejak jaman Belanda ini. Cukup murah kan? Gak perlu mengeluarkan uang banyak untuk mencicipi minuman sehat yang mengandung anti oksidan dari sari kedelai ini.
Bisa dilihat dari bahan – bahan pembuatnya yang juga sangat sehat seperti susu kacang kedelai , agar agar putih, dan garam untuk tahu lembutnya. 


Sedangkan untuk kuahnya dibuat dari gula pasir, gula merah, jahe, daun pandan, daun jeruk,  kayu manis, cengkeh, dan garam. Tanpa bahan kimia dan bahan tambahan buatan. Sehat segar. Nikmat dinikmati dalam kondisi masih hangat kuahnya. Hehehehe.

Tuesday, August 25, 2015

Mie Kopyok Semarang



Sesuai dengan namanya, Mie Kopyok Semarang merupakan masakan berbahan dasar mie yang khas dari Semarang. Sejauh yang penulis ketahui, mie ini hanya bisa ditemui di daerah Semarang dan sekitarnya saja. Misalnya di daerah Ungaran, Demak atau Kendal. Sangat susah ditemukan di tempat lain.

Hidangan dengan ciri khas tambahan tahu dan krupuk gentar ini, biasanya dijajakan dengan berkeliling menggunakan gerobak keliling dari gang ke gang, dari kampung ke kampung lain. Ada juga beberapa orang Semarang yang menyebutnya mie lontong, karena memang salag satu bahan utamanya adalah lontong.

Mie khas Kota Lunpia ini berisi potongan lontong, mie dan tauge yang disajikan dengan cara direndam air panas mendidih sebentar sehingga tauge tidak terlalu matang. Diberi irisan lontong dan tahu pong. Setelah itu ditambahkan bumbu air bawang putih. Terakhir dibubuhkan irisan seledri dan bawang merah goreng. Hemmmm, maknyus ... Sebagai ciri khas yang tak pernah dilupakan adalah krupuk karak atau gendar (krupuk dari beras) diremas. Tak lupa kecap dan sambal.

Kuahnya dari air kaldu ayam yang dibubuhi garam dan merica bubuk. Dalam penyajiannya, kaldu tersebut harus dalam keadaan mendidih. Pembuatan mie ini cukup sederhana. Bagi yang ingin mencoba. Silakan ke kota Semarang. Pasti banyak penjaja mie enak ini.


Sumber gambar : miekopyokpakdhuwur dot wordpress dot com

Thursday, July 30, 2015

Festival Waisak di Candi Terbesar Dunia Borobudur


Banyak juga diantara kita, orang Indonesia, yang belum tahu bahwa salah satu event budaya kelas dunia yang banyak diminati turis Internasional ada di Indonesia. Salah satu event budaya yang begitu banyak mendapat perhatian masyarakat dunia itu adalah event budaya Waisak atau ada yang menyebutnya Festival Waisak yang diadakan di Candi Borobudur , salah satu 7 keajaiban dunia. Festival ini akan berlangsung sekitar bulan Mei dan bulan Juni setiap tahunnya. 

Festifal tersebut masuk dalam rangkaian kegiatan keagamaan Hari Tri Suci Waisak yang dimotori oleh  12 Majelis Agama Buddha dan 1 Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia yang bergabung di Walubi. Tahun 2015 , Hari Besar Keagamaan tersebut diatas jatuh pada tanggal 2 Juni 2015. Ada dua destinasi wisata yang dipergunakan pada acara itu, yaitu Candi Mendut dan Candi Borobudur. Inti dari festival diadakan di Candi Borobudur, tempat suci kuno yang dibangun pada abad ke-9 Masehi.



Rangkaian Festival Waisak diawali dengan pengambilan Api Suci dari sumber api abadi yang ada di kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan yang dilakukan sehari sebelumnya. Api ini merupakan gambaran dari semangat umat manusia untuk terus berusaha mewujudkan pencerahan diri. Api Suci akan dibawa ke Candi Mendut untuk “menginap” di sana sebelum dipakai dalam Ibadah Hari Tri Suci Waisak di Candi Termegah Borobudur. 


Pada malam hari, sekitar pukul 10 malam sampai dengan 12 malam diadakan pembacaan doa atau mantera yang dipimpin oleh kepala biksu atau bante. Yang menarik disini adalah peserta yang mengikuti acara ini berasal dari banyak negara seperti Thailand, Tiongkok, Philipina, Myanmar, Singapura, Malaysia, Srilanka, dan beberapa negara di Asia. Pembacaan doa ini dilakukan sesuai dengan bahasa masing-masing. Kita akan mendengar banyak bahasa dalam kegiatan ini, yang mewakili umat Buddha dari seluruh dunia.

Keesokan harinya, Api Suci akan dibawa menuju Candi Borobudur dengan berjalan kaki dari Candi Mendut. Robongan biksu yang membawa Api Suci tersebut akan diiringi oleh arak- arakan yang membawa buah- buahan dan sayur – sayuran sebagai persembahan. Perjalanan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur ini sangat menarik. Banyak wisatawan mancanegara yang menyempatkan diri melihat acara ini. Oleh wisatawan mancanegara , acara ini sering disebut dengan The Walk to Wisdom.




Setelah tiba di Candi Terbesar Dunia, rangkaian Hari Tri Suci Waisak dilanjutkan dengan penghormatan tertinggi kepada Sidharta Gautama, ditandai dengan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali dan searah dengan jarum jam. Ritual ini dinamai Ritual Pradaksina. Berlangsung dari jam 6 sore sampai selesai. Uniknya, pada penghujung ritual ini ada akan ada pelepasan 1000 lampion. Pemandangan yang sangat indah , sayang sekali dilewatkan. Bayangkan 1000 lampion terbang di langit Borobudur di malam hari yang cerah. Event yang dicatat dalam buku rencana liburan para wisatawan mancanegara. Sebagai wisatawan dalam negeri, kita tidak boleh melewatkan event ini. 

Yang boleh melepaskan lampion bukan hanya umat yang merayakan Hari Tri Suci Waisak disana. Semua orang yang hadir termasuk wisatawan lokal maupun mancanegara diperbolehkan melepas lampion yang bermakna melepas energi negatif dari dalam diri kita. Pelepasan lampion ini adalah penutup dari seluruh rangkaian 7 Ritual Suci Waisak.





Bagi yang ingin melihat seperti apa Festival Waisak di Borobudur, bisa lihat video berikut ini :

video



Sumber foto / video : 
www (dot) fest300 (dot) com
www (dot) print (dot) kompas (dot) com
www (dot) youtube (dot) com

Tuesday, June 30, 2015

Sam Poo Kong, Tiongkok Kecil di Jawa Tengah


Klenteng ini dikenal masyarakat Semarang dan sekitarnya dengan nama Klenteng Gedong Batu. Namun masyarakat luas lebih mengenalnya dengan nama Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng ini memang dibangun oleh Sam Poo Kong atau Sam Poo Tay Djien dalam kunjungannya ke Semarang pada masa lalu. Orang Jawa Tengah sendiri lebih mengenal Sam Poo Tay Djien sebagai Laksamana Cheng Ho.

Konon, waktu Laksamana Cheng Ho lewat disekitar laut Jawa (utara Semarang sekarang ) sekitar tahun 1400, banyak anak buah kapalnya yang jatuh sakit. Untuk itu beliau memerintahkan untuk membuang jangkar di pantai terdekat. Ditempat itulah beliau menemukan gua batu. Dulu gua tersebut ada di pinggir pantai, namun sekarang berada di tengah kota karena pendangkalan pantai selama ratusan tahun. Di gua tersebut Laksamana Cheng Ho sering bersembahyang dan bermeditasi.

Masyarakat Semarang menyebutnya Gedong Batu karena  pada awalnya ditempat tersebut adalah gua besar pada sebuah bukit batu ( Gedong = bangunan, Batu = batu ) . Bentuknya mirip bangunan arsitektur Tiongkok , mirip klenteng. Pada lokasi gua tersebut dibangun tempat untuk tempat bersembahyang dan tempat ziarah bagi sebagai Laksamana Cheng Ho. Pada gua batu tersebut dibuat sebuah altar dan patung – patung Sam Poo Tay Djien. Sekarang gua aslinya sudah longsor pada tahun 1724 masehi.

Setelah Laksamana Cheng Ho melanjutkan perjalanannya, banyak awak kapalnya yang akhirnya menetap di daerah gua tersebut ( sekarang daerah Simongan Semarang) dan menikah dengan penduduk setempat. Sebelum meninggalkan awalnya ditempat tersebut, beliau mengajarkan cara bercocok tanam pada awaknya.


Salah satu bangunan ber-arsitektur Tiongkok 

Klenteng yang berada di daerah Simongan ini dapat ditempuh sekitar 10 menit dari Simpanglima Semarang dengan menggunakan kendaraan umum taksi atau sekitar 20 menit dengan angkutan perkotaan. Jaraknya cukup dekat, hanya 3 kilometer dari lapangan Pancasila Simpanglima. Menurut beberapa sumber, gua batu tersebut diatas merupakan tempat persinggahan atau pendaratan pertama Laksamana  Zheng He atau Cheng Ho.

Di klenteng yang dikelilingi oleh pohon yang sejuk ini juga terdapat makam Juru Mudi Kapal Laksamana Cheng Ho yang dikenal dengan nama Kyai Juru Mudi. Di dalam klenteng itu sendiri ada patung Laksamana Cheng Ho yang berlapis emas. Sedangkan di dindingnya terdapat relief perjalanan Cheng Ho, utamanya persinggahannya di Pulau Jawa.


Suasana sejuk dan teduh di sekitar Klenteng Sam Poo Kong


Dalam kompleks klenteng yang telah direnovasi tahun 2002 dan 2005 ini ada satu klenteng besar dan dua bangunan untuk sembahyang yang kecil. Tempat sembahyang itu disebut klenteng Thao Tee Kong yang diperuntukkan bagi Dewa Bumi.

Ada pula tempat yang dinamakan tempat Kyai Jangkar yang berisi jangkar kapal asli milik Laksamana Cheng Ho. Disini biasanya dipergunakan untuk mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang belum mendapat tempat dialam baka atau disebut arwah Ho Ping.

Tidak semua tempat boleh dikunjungi oleh para wisatawan yang masuk dengan biaya 3000 rupiah per orang ini. Ada beberapa tempat yang hanya diperbolehkan dikunjungi wisatawan.

Namun pemandangan disana tetap saja sayang dilewatkan. Sangat menarik. Kalau kita memasuki kawasan ini, serasa berada di negeri Tiongkok. Banyak bangunan dan patung khas negeri Tiongkok yang bisa kita temui disini. Ada area luas didepan kantin klenteng yang sangat teduh. Sangat pas untuk melepas lelah. Membuat kita makin nyaman disana. Tidak heran klenteng yang telah dipugar dengan biaya 20 miliar rupiah ini menjadi tujuan wisata dari turis manca negara.



Istri, anak dan beberapa saudara dari Bandung yang berfoto di depan patung Cheng Ho terbesar di dunia. 


Sangat rugi kalau belum pernah berkunjung kesana.

Yang menjadikan tempat khas tidak itu saja, tapi di dalam area klenteng dengan patung Cheng Ho terbesar didunia ini terdapat mushola yang bisa dipergunakan untuk bersembahyang umat muslim.


Mushola dalam kompleks Klenteng Sam Poo Kong


Dihalamannya terdapat banyak bangunan menarik dengan sejumlah patung yang menarik dengan ukuran besar. Mungkin patung patung seperti ini hanya ada disini. Rugi besar kalau tidak kesana. Apalagi saat ada perayaan Cheng Ho. Waaahh. Banyak kesenian daerah ditampilkan disana. Termasuk tarian daerah Jawa Tengah dan Barongsai.


Patung patung khas Tiongkok

Perayaan Cheng Ho ini biasanya digelar pada bulan Agustus. Ada banyak hal yang bisa kita nikmati disana selain tari-tarian. Ada bazar, ada arak-arakan. Pada perayaan ini kita bisa menemui banyak wisatawan dari Tiongkok yang berziarah kesana. Tapi tidak hanya wisatawan dari Tiongkok saja, banyak juga pelancong dari Amerika, Rusia dan negara di Amerika Latin.



Sumber :
Brosur terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah
Brosur terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang
Cerita dari beberapa  kenalan.
wikipedia

Friday, June 26, 2015

Stasiun Tawang, Destinasi Wisata Menarik yang Luput dari Perhatian



Siapa sih yang tidak tahu dengan Stasiun Tawang? Hampir semua orang kenal dengan bangunan tua ini sebagai sebuah tempat berhentinya kereta api , khususnya kereta api eksekutif dan bisnis, yang dijalankan oleh PT. KAI ini.

Jika kita datang ke kota Semarang dengan menggunakan angkutan umum kereta api, maka kemungkinan besar kita akan berhenti di Stasiun Poncol atau Stasiun Tawang. Sering kali penumpang yang berhenti di Stasiun Tawang lupa bahwa stasiun tersebut juga merupakan destinasi wisata. Betul. Tidak salah. Destnasi wisata yang menarik dan unik di Kota Semarang , Jawa Tengah.

Bangunannya sendiri dirancang oleh seorang arsitek berbangsa Belanda bernama J.P de Bordes. Diresmikan penggunaannya pada tanggal 16 Juni 1864. Awal pembangunannya oleh Gubernur Jenderal Mr. Baron Sloet van de Beele. 


Hal ini terbukti waktu penulis menjemput saudara yang datang dari Bandung. Para penumpang yang turun dari kereta api Harina cukup banyak, namun tak satupun yang mencoba ber-selfie ria di Stasiun yang berumur 147 tahun ini. Semua langsung saja menuju taksi atau mobil penjemput. Biasanya para pelancong dalam negeri suka foto selfie disemua destinasi wisata. 

Stasiun Semarang Tawang sendiri berdiri di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Stasiun ini merupakan STASIUN KERETA API BESAR TERTUA DI INDONESIA. Diresmikan pada tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Stasiun Tanggung. Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Pada tahun 1873 jalur ini diperpanjang hingga Stasiun Solo Balapan dan melanjut hingga Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta. Dulu, selain ada rel ke Stasiun Semarang Gudang, terdapat juga rel menuju Demak.


Tujuan utama dari pendirian Stasiun dengan aritektur campuran Belanda Jawa ini adalah untuk mengangkut hasil bumi di kawasan Semarang, Yogyakarta, Temanggung dan Surakarta. Hal ini terjadi karena angkuan lewat darat yang waktu itu disebut Jalan Raya Pos tidak memadahi lagi. Banyak sekali hasil bumi dari kawasan tersebut diatas yang akan diangkut ke Negeri Belanda terkendala alat angkutan. 

Stasiun Tawang ini merupakan satu kesatuan dengan Kawasan Kota Lama yang terdiri dari gedung - gedung tua peninggalan Belanda. Gedung - gedung itu antara lain Gereja Blenduk, Gereja Gedangan, Taman Sri Gunting, Gedung Marba, Gedung Marabunta, Nilmij, dan De Spiegel. 

Berikut ini merupakan gambar gedung gedung tua tersebut diatas yang diambil penulis pada saat mengikuti wisata dengan bus Semarjawi. 


Gambar Gereja Blenduk 2015
Bersama istri menikmati indahnya dan teduhnya taman Sri Gunting yang eksotik
Gereja Gedangan yang luput dari perhatian pecinta wisata
Sudah lama gedung ini tidak dilirik sebagai destinasi wisata bangunan bersejarah


Sejak pertama kali di bangun, tak banyak perubahan terjadi di Stasiun Tawang. Hampir seluruh bagian di stasiun ini tetap sama. Lapangan di depan Stasiun Tawang (sekarang menjadi Polder) juga mempunyai nilai historis yang tinggi yaitu sebagai ruang terbuka di kawasan kota lama yang difungsikan sebagai tempat upacara, olah raga, pertandingan dan sebagainya.


Stasiun  dengan arsitektur indah dan megah pada masanya dengan sentuhan Romanticism ini mempunyai keunikan, yaitu lagu Gambang Semarang yang dimainkan dengan piano; menandai kereta akan datang. Belum lagi , sekarang ini kita bisa menikmati lagu lagu keroncong  tempo dulu di tengah lobby stasiun. 

Seperti apa gabungan arsitektur Belanda Jawa dengan sentuhan Romanticism ? Hal ini tergambar pada foto berikut :
Bangunan dibuat tinggi sesuai dengan arsitektur Jawa yang berhawa panas

Kubah dan lampu -lampu mempunyai sentuhan Romanticism 

Gaya bangunan Belanda yang langsung Anda rasakan kala masuk ke lobby utama


Sangat disayangkan jika kita terlupa bahwa Stasiun Tawang yang sering kita kunjungi ini merupakan saksi perjalanan perjuangan bangsa ini dan menjadi tonggak sejarah perkereta apian di Indonesia. 

Bagi penumpang kereta api yang pernah turun dan singgah di Stasiun Tawang, sempatkanlah menikmati keindahan arsitektur bangunan londo (Jawa : Belanda) yang indah dan unik. Tidak ada duanya di Indonesia. Mungkin keindahannya masih bisa disaingi stasiun lain. Tapi nilai sejarahnya sangat tinggi. Nikmatilah karena keindahan arsitektunya menunggu untuk Anda nikmati. 


Posted by Darto via Blogaway for Android

Wednesday, June 24, 2015

Candi Gedong Songo, Mutiara Tersembunyi di Lereng Gunung Ungaran


Nama Candi Gedong Songo, sebuah situs peninggalan budaya Hindu di Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang ini,  kurang begitu terkenal. Kalah dengan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang Jawa Tengah dan Candi Prambanan di DI Yogyakarta. Padahal keindahan dan keunikannya tidak kalah. 

Candi yang terletak pada ketinggian 1200 meter diatas permukaan air laut ini berhawa dingin segar. Rata-rata 19 derajad celcius , cocok untuk menyegarkan paru paru dan pikiran dari hingar bingar kota.  Dibangun pada tahun 927 Masehi  oleh Wangsa Syailendra dan ditemukan oleh Loten pada tahun 1740. Dan oleh Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia , Raffles, pada tahun 1804 tempat ini dinamakan Gedong Pitue (Indonesia : Gedung Tujuh) karena waktu itu hanya ditemukan 7 bangunan candi disana.

Pada situs ini terdapat sembilan (jawa : songo) bangunan batu (jawa : gedong)  berupa candi. Karena itulah kelompok candi in dinamakan Candi Gedong Songo.  Letaknya tersebar di sebuah area yang cukup luas di lereng Gunung Ungaran. Sekarang ini , disekitarnya terdapat beberapa obyek pariwisata yang layak untuk dikunjungi seperti pemandian air panas belerang alam, area berkemah, dan area berkuda di dalam daerah hutan cemara yang sering berkabut. Ada nuansa romantis disana. Hehehee.

Situs candi yang hampir mirip dengan komplek Candi Dieng ini bisa dicapai sekitar 1 jam 30 menit dari Semarang dengan mennggunakan mobil pribadi. Jalannya lumayan menanjak setelah mencapai lereng Gunung Ungaran. Cari saja jalan yang menuju obyek wisata Bandungan. Dari obyek wisata Bandungan ini, Candi Gedong Songo sudah sangat dekat lho. Hanya butuh 10 menit untuk sampai kesana. Sepanjang jalan kesana banyak pemandangan indah yang menghijau.  Bagi yang memiliki fasilitas GPS, bisa mengakses obyek wisata ini pada GPS Waypoint: 7°12’39.72”S (Latitude) 110°20?32.88” E (Longitude) Google Map Refference (-7.211033,110.342467)

Candi Gedong Songo pertama bisa diakses dengan berjalan kaki 200 meter melalui jalan setapak yang naik. Udara yang sejuk segar membuat kita tidak merasakan rasa capek karena jalan menanjak itu.  Diantara candi ke tiga dan ke empat ada sumber air panas dengan kandunga belerang yang cukup banyak. Ada asap putih tipis yang keluar dari sumber belarang alami itu. Bau belerang yang khas cukup kuat disini. Kalau ada waktu, kita bisa sekedar mandi atau cuci muka dengan airnya yang hangat. Air disini bisa untuk menghilangkan penyakit kulit dan membuat muka kelihatan awet muda lho. Tidak percaya? Coba saja sendiri kesana.  

Kalau ke Gedong Songo jangan lupa merasakan juga wisata berkuda di wilayah yang dikelilingi hutan cemara yang berkabut tipis. Rugi besar kalau tidak merasakan wisata ini lho. 

Mengingat usia situs in yang cukup tua, ada beberapa patung di komplek Candi Gedong Songo sudah kurang bagus kondisinya, namun masih bisa dilihat sisanya. Patung yang bisa kita lihat disana seperti patung Durga (Istri Siwa), Ghanesa (Anak Siwa), Agastya (Seorang Resi) Serta dua pengawal dewa Siwa yaitu Nandiswara dan Mahakala yang bertugas menjaga pintu candi.

Sejak jaman Pemerintahan Belanda sampai sekarang ini sudah banyak usaha yang dilakukan untuk melestarikan Candi Gedong Songo. Salah satu usaha itu adalah pemugaran candi Gedong Songo 1 pada tahun 1928-1929. Kemudian dilanjutkan dengan pemugaran pada candi Gedong Songo 2 pada tahun 1930-1932. Hal ini dilanjutkan dengan pemugaran komplek candi Gedong Songo 3 , 4 dan 5 oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1977-1983. Terakhir telah di lakukan pemetaan ulang semua komplek candi Gedong Songo pada tahun 2009 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Indonesia.



Sumber gambar : ceritamu dot com 

Monday, May 4, 2015

Roti Ganjel Rel , Resep Warisan Jaman Belanda yang Khas dan Bercitarasa Unik dari Semarang

Ganjel Rel dalam bahasa Indonesia artinya (Kayu) Penganjal Rel Kereta Api. Nah roti khas Semarang ini namanya diambil dari situ. Bentuknya mirip dengan kayu itu (Dulu penganjal rel kereta api dari kayu, bukan dari besi eperti sekarang ini) . Jenis roti yang lezat ini mulai susah dijumpai, meski di Semarang sendiri. Banyak yang mencari makanan berwarna coklat memikat ini, harus blusukan ke pasar Johar, pasar tradisional terbesar di Semarang.



Roti ini kurang terkenal karena agak alot dan tekstur agak kasar, tapi rasa dan sensasi saat makan sungguh membawa kita ke sebuah cita rasa klasik jaman pendudukan Belanda di Semarang. Rasanya begitu khas. Ganjel rel kurang dikenal karena katanya sulit dikonsumsi. Padahal  menurut para ahli roti sangat baik bagi pencernaan. Roti ini merupakan salah satu oleh-oleh khas Semarang.

Ganjel rel cukup istimewa. Makan beberapa potong saja sudah sanggup mengenyangkan perut. Ingat cerita ibu saya dulu , satu roti bisa untuk bekal ke sekolah. Makan sedikit kenyangnya bisa seharian. Roti ini berbentuk kotak dan berwarna coklat bertabur wijen, rasa roti ini ber cita rasa kayu manis. Teksturnya ulet dan padat dipadu dengan aroma coklat dan kayu manis yang nendang di lidah.

Roti ini mendapat tempat tersendiri pada tradisi menjelang Ramadhan di Semarang. Acara pembagian kue ganjel rel di tengah tradisi menjelang Ramadan menjadi acara yang dinanti warga. Ribuan warga bahkan rela berdesakkan untuk memperoleh kue tersebut, karena dipercaya mampu memperkuat diri ketika menjalankan ibadah puasa. Ganjel rel atau yang biasa disebut kue gambang yang selalu menjadi rebutan masyarakat Kota Semarang saat perayaan Dugderan, nama acara tradisi menjelang Ramadhan di Semarang ini .

Resepnya masih asli dari jaman Belanda. Belum berubah sedikitpun. Nama aslinya adalah roti gambang tapi masyarakat Semarang lebih mengenalnya dengan nama “ganjel rel”. Rasanya manis karena menggunakan campuran gula aren. Cocok sekali untuk teman minum teh seperti nonik Belanda dan juga karena roti ini padat jadi sangat cocok sekali untuk sarapan.

Sekilas ada kemiripan antara roti ganjel dengan onde-onde. Keduanya bertabur biji wijen. Namun soal bentuk dan rasa tentus saja berbeda. Karena merupakan roti khas festival Dugderan, maka permintaan roti ini akan meningkat saat bulan Ramadhan tiba. Mungkin karena permintaan pasar yang cenderung melonjak saat bulan puasa tiba inilah yang menjadikan roti ganjel rel tidak diproduksi setiap hari. Roti yang resep aslinya dibuat dari singkong ini awalnya memiliki tesktur yang agak alot sehingga tidak mudah untuk dikonsumsi. Seperti yang telah diketahui bersama, tepung singkong memiliki sifat kenyal.

Tuesday, April 21, 2015

Bandeng Presto Semarang

Ikan bandeng yang gurih sering kali membuat kita ingin menikmati rasanya yang maknyuuus. Tapi sebagian orang malas memakannya karena banyaknya duri-duri yang lembut. Tetapi, sejak ikan bandeng bisa diolah menjadi ikan yang berduri lunak, membuat orang-orang bisa menikmati gurihnya bandeng tanpa perlu takut terkena atau tertelan durinya.

Bandeng Presto adalah ikan bandeng yang dimasak dengan panci bertekanan tinggi yang sering disebut dengan panci Presto. Kata presto sebenarnya diambil dari sebuah merk dagang panci bertekanan tinggi.

Cara ini dilakukan untuk membuat duri ikan bandeng tersebut menjadi lunak sehingga enak untuk disantap dan mampu tahan lama. Untuk bandeng presto dengan cara penyimpanan khusus, mampu bertahan dalam waktu 3-4 bulan tanpa berubah rasa dan warna.

Bandeng presto adalah makanan khas Indonesia yang berasal dari Kota Semarang, Jawa Tengah. Makanan ini dibuat dari ikan bandeng (Chanos chanos) yang dibumbui dengan bawang putih, kunyit dan garam. Walaupun pada awalnya ditemukan oleh Hanna Budimulya yang lahir di Kapbupaten  Pati, Jawa Tengah , namun makanan lezat yang satu ini menjadi ikon Kota Semarang. Jangan pernah cerita ke orang lain bahwa Anda pernah ke Semarang , kalau belum pernah menikmati kegurihan Bandeng Presto. 

Bandeng Presto ditemukan pada tahun 1977 oleh Ibu Hanna Budimulya yang pada awalnya dibuat dalam skala kecil untuk kalangan tertentu saja. Namun karena digemari banyak orang, produksi Bandeng Presto semakin berkembang dan menjadi oleh-oleh khas dari Kota Semarang.

Ikan bandeng ini dimasak pada alas daun pisang dengan cara presto. Presto adalah cara memasak dengan uap air yang bertekanan tinggi. Makanan yang dimasak dengan cara ini diletakkan dalam panci yang dapat dikunci dengan rapat. Air yang berada di dalam panci ini kemudian dipanaskan hingga mendidih. Uap air yang timbul akan memasak makanan yang berada di dalam panci ini. Karena ikan bandeng terkenal memiliki banyak duri, bandeng presto adalah makanan yang digemari karena dengan cara masak presto duri-duri ini menjadi sangat lunak

Sekilas Perjalanan Bandeng Presto
Ada cerita unik dibalik munculnya makanan ini. Saat itu tahun 1976, Ibu Hanna Budimulya  dan suaminya Bapak Agus Pradekso tinggal  di Jalan Pandanaran no. 33 Semarang. Keadaan ekonominya kurang bagus karena hanya berprofesi sebagai sopir truk barang Jakarta Semarang.

Suatu hari, Ibu Hanna mengantarkan anaknya pertamanya masuk taman kanak-kanak. Di sekolah Ibu Hanna melihat banyak ibu-ibu mengantarkan anaknya sambil membawa barang dagangan seperti baju dan sepatu. Melihat para ibu mempunyai usaha sampingan, Ibu Hanna ingin membantu suaminya tetapi beliau tidak tahu apa yang dapat dijualnya. Kahirnya Ibu Hanna mendapat ide untuk menjual bandeng pindang yang durinya akan dilunakkan dengan menggunakan panci pressure cooker merk Presto.

Produksi awal Ibu Hanna sebanyak tiga kilogram atau 12 ekor ikan bandeng. Ibu Hanna menawarkan bandeng buatannya pada ibu-ibu sesama pengantar anak di sekolah. Pada hari pertama, baru laku 2 ekor, hamun hari-hari berikutnya jumlah pembeli semakin bertambah. Ibu Hannapun semakin percaya diri dan berani membuka toko bandeng Presto di ruang muka rumahnya. 

Kata Presto dia ambil dari merk panci miliknya. Pertama kali ikan bandeng PResto dijual Rp. 5.000,- per ekor. Karena banyaknya pesaing dari para tetangga, maka Bapak Agus mempatenkan merk Presto ini sehingga merek Presto ini tidak dapat digunakan orang lain.

Bandeng Presto sekarang menjadi icon dari kota Semarang sehingga banyak sekali orang dari dalam kota Semarang sendiri dan orang dari luar kota yang membeli untuk oleh-oleh kerabat, saudara dan teman-teman. Bahkan bandeng Presto sudah sampai ke luar kota, seperti Surabaya, Jakarta dan Bandung, bahkan ke luar negeri seperti Hongkong dan Amerika.

Sumber :
www(dot)bandengpresto-semarang(dot)com/tentang-kami

www(dot)id(dot)wikipedia(dot)org/wiki/Bandeng_presto

Sumber gambar :
www(dot)wego(dot)co(dot)id

Wednesday, April 15, 2015

Tahu Pong Semarang yang Pedas Gurih

Mampir di Semarang tanpa mencicipi uniknya rasa masakan tahu pong, itu seperti makan nasi tanpa lauk, terasa hambar. Setahu banyak orang, makanan khas Semarang hanya lunpia dan wingko babat. Tahu pong sering luput dari perhatian pecinta wisata kuliner.  

Ada yang bilang tahu pong itu camilan, tapi ada yang bilang itu makanan utama. Terserah deh. Memang agak susah membedakan, mengingat besar menunya. Tahu Pong berwujud tahu goreng garing  dan gurih, yang dalamnya kosong (kopong) karena tahu mengembang saat digoreng dengan minyak panas yang berlimpah. Karena itu dinamai tahu pong. Tahu kopong, atau dalam bahasa Indonesia Tahu Kosong.

Makanan yang bahan utamanya tahu pong, telur rebus yang digoreng, dan gimbal udang ini merupakan sebuah resep kuliner hasil perpaduan. Perpaduan seperti apa? Perpaduan antara resep asli Tiongkok yang dibawa oleh pedagang Tiongkok yang kemudian menetap di Semarang dengan resep lokal semarang yang sudah lama.

Penyajiannya cukup sederhana namun membawa kesan tersendiri. Tahu pong langsung digoreng saat akan disajikan. Tahunya benar-benar harus masih “fresh” dari penggorengan saat disajikan.

Cara menyantapnya juga unik. Tahu yang disajikan bersama telor rebus yang digoreng dan gimbal udang ini disobek dulu. Setelah itu dicelup atau dicocol ke dalam kuah kecap pedas yang menggugah selera. Tunggu agar kuah meresap ke tahu, baru disantap... wwuiiih rasanya... maakkk nyyuuuuussss.

Kuah kecapnya pun bukan kecap biasa, tapi campuran dari beberapa bahan , termasuk petis udang dan bawang putih tumbuk. Pedas, asin, gurih, dan sedap bercampur jadi satu. Belum lagi agar lobak putih yang diserut yang biasanya disajikan berdampingan dengan kuahnya. Menambah rasa asam segar.

Kadang bersama dengan tahu pong, disajikan juga tahu telur sebagai tambahan menu. Seperti apa tahu telur itu? Tahu telur itu tahu yang dihaluskan kemudian dikocok bersama dengan telur dan juga daun bawang.

Di beberapa warung tahu pong, di Semarang, satu paket menu ini dihargai mulai 6000 rupiah sampai dengan 12000 rupiah. Tidak terlalu mahal. Pas untuk kantong kita. Apalagi kalau dibandingkan dengan rasanya yang membuat lidah menari. Sungguh sepadan.

Silakan coba... :D
 

Produk Baru

Produk Sponsor

Produk Baru

Produk Baru
 
Blogger Templates